RSS

TB PADA ANAK (ad ASKEP)

08 Apr

A. Pengertian

Tuberkulosis adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh kuman Mycobacterium biasanya terjadi di system respirasi manusia.
Penyakit infeksi kronis dengan karakteristik terbentuknya tuberkel granuloma pada paru.

B. Etiologi

Jenis kuman berbentuk batang, ukuran panjang 1–4/um dan tebal 0,3 – 0,6/um. Sebagian besar kuman berupa lemak/lipid sehingga kuman tahan asam dan lebih tahan terhadap kimia, fisik. Sifat lain dari kuman ini adalah aerob yang menyukai daerah yang banyak oksigen, dalam hal ini lebih menyenangi daerah yang tinggi kandungan oksigennya yaitu daerah apikal paru, daerah ini yang menjadi prediklesi pada penyakit tuberkulosis.

C. Manifestasi Klinis

Gejala yang sering jumpai:

1.   Dahak bercampur darah

2.   Batuk darah

3.   Sesak nafas dan rasa nyeri dada

4.   Badan lemah, nafsu makan menurun

Gejala Klinis

1.   Demam (subfebris, kadang-kadang 40 – 41 C, seperti demam influensa.

2.   Batuk (kering, produktif, kadang-kadang hemoptoe (pecahnya pembuluh darah).

3.   Sesak napas, jika infiltrasi sudah setengah bagian paru.

4.   Nyeri dada, jika infiltrasi sudah ke pleura.

5.   Malaise , anoreksia, badan kurus, sakit kepala, meriang, nyeri otot, keringat malam.

D. Perjalanan Penyakit (Patogenesis)

1. Tuberkulosis Primer

Penularan terjadi karena kuman dibatukkan atau dibersinkan keluar menjadi droplet nuclei dalam udara. Partikel infeksi ini dapat menetap dalam udara bebas selama 1-2 jam, tergantung ada tidaknya sinar UV ventilasi yang baik dan kelembabab udara. Dalam suasana gelap dan lembab kuman dapat bertahan berhari-hari sampai berbulan-bulan.

Bila partikel infeksi ini terisap oleh orang sehat, ia akan menempel pada jalan nafas atau paru-paru. Kuman dapat juga masuk melalui luka pada kulit atau mukosa tapi hal ini jarang terjadi.

Bila kuman menetap di jaringan paru maka akan membentuk sarang TB pneumonia kecil dan disebut sarang primer atau afek primer. Sarang primer ini dapat terjadi dibagian mana saja jaringan paru. Dari sarang primer akan timbul peradangan saluran getah bening menuju hilus (limfangitis local) dan juga diikuti pembesaran getah bening hilus (limfadenitis regional). Sarang primer + limfangitis local + limfadenitis regional = kompleks primer.

Komplek primer ini selajutnya dapat menjadi :

a.    Sembuh sama sekali tanpa meninggalkan cacat

b.   Sembuh dengan meninggalkan sedikit bekas berupa garis-garis fibrotik, kalsifikasi di hilus atau kompleks (sarang) Ghon.

c.    Berkomplikasi dan menyebar secara:

  • Per kontinuitatum, yakni menyebar kesekitarnya.
  • Secara bronkogen pada paru yang bersangkutan maupun paru disebelahnya. Dapat juga kuman tertelan bersama sputum dan ludah sehingga menyebar ke usus.
  • Secara limfogen, keorgan tubuh lainnya.
  • Secara hematogen, ke organ tubuh lainnya.

2. Tuberkulosis Post Primer

Kuman yang dormant pada TB primer akan muncul bertahun-tahun kemudian sebagai infeksi endogen menjadi TB dewasa (TB post primer). TB post primer ini dimulai dengan sarang dini yang berlokasi di region atas paru-paru (bagian apical posterior lobus superior atau inferior). Invasinya adalah ke daerah parenkim paru dan tidak ke nodus hiler paru.

Tergantung dari jumlah kuman, virulensi dan imunitas penderita, sarang dini ini dapat menjadi :

1. Diresorpsi kembali dan sembuh tanpa cacat

2. Sarang yang mula-mula meluas, tapi segera menyembuh dengan sebukan jaringan fibrosis. Ada yang membungkus diri menjadi lebih keras, menimbulkan perkapuran dan akan sembuh dalam bentuk perkapuran.

3. Sarang dini meluas dimana granuloma berkembang menghancurkan jaringan sekitarnya dan bagian tengahnya mengalami nekrosis dan menjadi lembek membentuk jaringan keju. Bila jaringan keju dibatukkan keluar akan terjadillah kavitas. Kavitas ini mula-mula berdinding tipis, lama-lama dindingnya menebal karena infiltrasi jaringan fibroblast dalam jumlah besar, sehingga menjadi kavitas sklerotik.

3. Terjadinya TB Sekunder  Melalui 3 Kemungkinan

1.   Dari TB primer berkembang menjadi TB sekunder

2.   Sembuh dari TB primer kemudian terinfeksi kedua kali

3.   Lesi primer dorman yang menyembuh kemudian aktif lagi

Cara Penularan Penyakit TBC

Penyakit TBC biasanya menular melalui udara yang tercemar dengan bakteri Mikobakterium tuberkulosa yang dilepaskan pada saat penderita TBC batuk, dan pada anak-anak sumber infeksi umumnya berasal dari penderita TBC dewasa. Bakteri ini bila sering masuk dan terkumpul di dalam paru-paru akan berkembang biak menjadi banyak (terutama pada orang dengan daya tahan tubuh yang rendah), dan dapat menyebar melalui pembuluh darah atau kelenjar getah bening. Oleh sebab itulah infeksi TBC dapat menginfeksi hampir seluruh organ tubuh seperti: paru-paru, otak, ginjal, saluran pencernaan, tulang, kelenjar getah bening, dan lain-lain, meskipun demikian organ tubuh yang paling sering terkena yaitu paru-paru.

Saat Mikobakterium tuberkulosa berhasil menginfeksi paru-paru, maka dengan segera akan tumbuh koloni bakteri yang berbentuk globular (bulat). Biasanya melalui serangkaian reaksi imunologis bakteri TBC ini akan berusaha dihambat melalui pembentukan dinding di sekeliling bakteri itu oleh sel-sel paru. Mekanisme pembentukan dinding itu membuat jaringan di sekitarnya menjadi jaringan parut dan bakteri TBC akan menjadi dormant (istirahat). Bentuk-bentuk dormant inilah yang sebenarnya terlihat sebagai tuberkel pada pemeriksaan foto rontgen.

Pada sebagian orang dengan sistem imun yang baik, bentuk ini akan tetap dormant sepanjang hidupnya. Sedangkan pada orang-orang dengan sistem kekebalan tubuh yang kurang, bakteri ini akan mengalami perkembangbiakan sehingga tuberkel bertambah banyak. Tuberkel yang banyak ini membentuk sebuah ruang di dalam paru-paru. Ruang inilah yang nantinya menjadi sumber produksi sputum (dahak). Seseorang yang telah memproduksi sputum dapat diperkirakan sedang mengalami pertumbuhan tuberkel berlebih dan positif terinfeksi TBC.

Meningkatnya penularan infeksi yang telah dilaporkan saat ini, banyak dihubungkan dengan beberapa keadaan, antara lain memburuknya kondisi sosial ekonomi, belum optimalnya fasilitas pelayanan kesehatan masyarakat, meningkatnya jumlah penduduk yang tidak mempunyai tempat tinggal dan adanya epidemi dari infeksi HIV. Disamping itu daya tahan tubuh yang lemah/menurun, virulensi dan jumlah kuman merupakan faktor yang memegang peranan penting dalam terjadinya infeksi TBC.

Perjalanan penyakit TB yang tidak diobati

1.   50% penderita meninggal

2.   25% penderita sembuh sendiri dengan daya tahan tubuh tinggi

3.   25% menetap menjadi kasus kronik

Perbedaan TB pada anak dengan TB dewasa

1.   TB anak lokasinya pada setiap bagian paru, sedangkan pada dewasa di daerah apeks dan infra klavikuler.

2.   Terjadi pembesaran kelenjar limfe regional sedangkan pada dewasa tanpa pembesaran kelenjar limfe regional.

3.   Penyembuhan dengan perkapuran sedangkan pada dewasa dengan fibrosis.

4.   Lebih banyak terjadi penyebaran hematogen, pada dewasa jarang.

D. Pemeriksaan Diagnostik

1. Reaksi hipersensitivitas : Tes Kulit Tuberkulin

a.    Tes tuberkulin intradermal (Mantoux)

b.   Tes tuberkulin dengan suntikan jet

c.    Tes tuberkulin tusukan majemuk

2. Pemeriksaan radiografik

Gambaran TBC milier berupa bercak-bercak halus tersebar merata pada seluruh lapangan paru. Gambaran radiology lain yang sering menyertai TBC paru adalah penebalan pleura, efusi pleura atau empisema, penumothoraks (bayangan hitam radio lusen dipinggir paru atau pleura).

3. Pemeriksaan Bakteriologik

Pemeriksaan ini penting karena dengan ditemukannya kuman BTA, diagnosis dapat dipastikan.

Kriteria sputum BTA positip adalah sekurang-kurangnya ditemukan 3 batang kuman BTA pada satu sediaan.

4. Pemeriksaan Laboratorium

a. Uji mantoux atau Tuberkulin

Ada 2 macam tuberkulin yaitu Old tuberkulin dan Purified Protein Derivat (PPD). Caranya adalah dengan menyuntikkan 0,1 ml tuberkulin PPD intrakutan di volar lengan bawah.  Hasilnya dapat dilihat 48 – 72 jam setelah penyuntikan. Berniai positif jika indurasi lebih dari 10 mm pada anak dengan gizi baik atau lebih dari 5 mm pada anak dengan gizi buruk.

b. Reaksi cepat BCG

Bila dalam penyuntikan BCG terjadi reaksi cepat (dalam 3-7 hari) berupa kemerahan lebih dari 5 mm, maka anak dicurigai terinfeksi Mycobaterium tbc.

c. Laju Endap Darah

Pada TB, terdapat kenaikan Laju Endap Darah (LED).

d. Pemeriksaan mikrobiologis

Pemeriksaan BTA pada anak dilakukan dari bilasan lambung karena sulitnya menggunakan hasil dahak.

Pemeriksaan BTA cara baru seperti: PCR (Polymerase Chain Reaction), Bactec, ELISA, PAP dan Mycodots masih belum banyak dipakai dalam klinis praktis.

5. Pemeriksaan Radiologis

1.   Gambaran x-foto dada pada TB paru tidak khas.

2.   Paling mungkin kalau ditemukan pembesaran kljr hilus dan klj paratrakeal.

3.   Foto lain: milier, atelektasis, infiltrat, bronkiektasis, kavitas, kalsifikasi, efusi pleura, konsolidasi, destroyed lung dan lain-lain.

F. Penatalaksanaan

1. Obat anti TB (OAT)

Karena pemakaian obat tunggal banyak terjadi retesistensi karena sebagian besar kuman TB memang dapat dibinasakan tetapi sebagian kecil tidak maka terapi TB dilakukan dengan memakai paduan obat.
Jenis Obat :

a.    Obat primer

  • isoniazid = INH – Streptomisin = SM
  • Rifampisin = RMP – Etambutol
  • Pita zinamid
  • Obat sekunder
  • Etionamid – P.A.S (Para Amine Saliycylic Acid)
  • Prorionamid – Tiasetazon
  • Sikloseren – Viomysin
  • Kanamisin – Kapremisyn

b.   Pembedahan pada TB Paru

c.    DOTS

d.   Pencegahan

  • Kemaprofilaksis
  • Vaksinasi BCG
  • Program kontrol.

 

 

Asuhan Keperawatan TB pada Anak

A. Pengkajian

1. Riwayat PerjalananPenyakit

a. Pola aktivitas dan istirahat

Subjektif: Rasa lemah cepat lelah, aktivitas berat timbul. sesak (nafas pendek), sulit tidur, demam, menggigil, berkeringat pada malam hari.

Objektif: Takikardia, takipnea/dispnea saat kerja, irritable, sesak (tahap, lanjut; infiltrasi radang sampai setengah paru), demam subfebris (40 -410C) hilang timbul.

b. Pola nutrisi

Subjektif: Anoreksia, mual, tidak enak diperut, penurunan berat badan.

Objektif: Turgor kulit jelek, kulit kering/bersisik, kehilangan lemak sub kutan.

c. Respirasi

Subjektif: Batuk produktif/non produktif sesak napas, sakit dada.

Objektif: Mulai batuk kering sampai batuk dengan sputum hijau/purulent, mukoid kuning atau bercak darah, pembengkakan kelenjar limfe, terdengar bunyi ronkhi basah, kasar di daerah apeks paru, takipneu (penyakit luas atau fibrosis parenkim paru dan pleural), sesak napas, pengembangan pernapasan tidak simetris (effusi pleura.), perkusi pekak dan penurunan fremitus (cairan pleural), deviasi trakeal (penyebaran bronkogenik).

d. Rasa nyaman/nyeri

Subjektif: Nyeri dada meningkat karena batuk berulang.
Obiektif: Berhati-hati pada area yang sakit, prilaku distraksi,

gelisah, nyeri bisa timbul bila infiltrasi radang sampai ke pleura sehingga timbul pleuritis.

e. Integritas ego

Subjektif: Faktor stress lama, masalah keuangan, perasaan tak berdaya/tak ada harapan.

Objektif: Menyangkal (selama tahap dini), ansietas, ketakutan, mudah tersinggung.

B. Diagnosa Keperawatan

1. Bersihan jalan nafas tidak efektif

Tujuan

Mempertahankan jalan napas pasien. Mengeluarkan sekret tanpa bantuan. Menunjukkan prilaku untuk memperbaiki bersihan jalan napas. Berpartisipasi dalam program pengobatan sesuai kondisi. Mengidentifikasi potensial komplikasi dan melakukan tindakan tepat.

Intervensi

a.    Kaji fungsi pernapasan: bunyi napas, kecepatan, imma, kedalaman dan penggunaan otot aksesori.

b.   Catat kemampuan untuk mengeluarkan secret atau batuk efektif, catat karakter, jumlah sputum, adanya hemoptisis.

c.    Berikan pasien posisi semi atau Fowler, Bantu/ajarkan batuk efektif dan latihan napas dalam.

d.   Bersihkan sekret dari mulut dan trakea, suction bila perlu..

e.    Pertahankan intake cairan minimal 2500 ml/hari kecuali kontraindikasi.

f.     Lembabkan udara/oksigen inspirasi..g. Berikan obat: agen mukolitik, bronkodilator, kortikosteroid sesuai indikasi.

2. Gangguan pertukaran gas

Tujuan

Melaporkan tidak terjadi dispnea. Menunjukkan perbaikan ventilasi dan oksigenasi jaringan adekuat dengan GDA dalam rentang normal. Bebas dari gejala distress pernapasan.

Intervensi

a.    Kaji dispnea, takipnea, bunyi pernapasan abnormal. Peningkatan upaya respirasi, keterbatasan ekspansi dada dan kelemahan.

b.   Evaluasi perubahan-tingkat kesadaran, catat tanda-tanda sianosis dan perubahan warna kulit, membran mukosa, dan warna kuku.

3. Infeksi

Tujuan

Mengidentifikasi intervensi untuk mencegah/menurunkan resiko penyebaran infeksi. Menunjukkan/melakukan perubahan pola hidup untuk meningkatkan lingkungan yang aman.

Intervensi

a.    Review patologi penyakit fase aktif/tidak aktif, penyebaran infeksi melalui bronkus pada jaringan sekitarnya atau aliran darah atau sistem limfe dan resiko infeksi melalui batuk, bersin, meludah, tertawa., ciuman atau menyanyi.

b.   Identifikasi orang-orang yang beresiko terkena infeksi seperti anggota keluarga, teman, orang dalam satu perkumpulan.

c.    Anjurkan pasien menutup mulut dan membuang dahak di tempat penampungan yang tertutup jika batuk.

d.   Gunakan masker setiap melakukan tindakan.

e.    Monitor temperatur.

f.     Identifikasi individu yang berisiko tinggi untuk terinfeksi ulang Tuberkulosis paru, seperti: alkoholisme, malnutrisi, operasi bypass intestinal, menggunakan obat penekan imun/ kortikosteroid, adanya diabetes melitus, kanker.

g.    Tekankan untuk tidak menghentikan terapi yang dijalani.

Rasional: Periode menular dapat terjadi hanya 2-3 hari setelah permulaan kemoterapi jika sudah terjadi kavitas, resiko, penyebaran infeksi dapat berlanjut sampai 3 bulan.

h.   Pemberian terapi INH, etambutol, Rifampisin.

i.     Pemberian terapi Pyrazinamid (PZA)/Aldinamide, para-amino salisik (PAS), sikloserin, streptomisin.

Rasional: Obat-obat sekunder diberikan jika obat-obat primer sudah resisten.

j.     Monitor sputum BTA

Rasional: Untuk mengawasi keefektifan obat dan efeknya serta

respon pasien terhadap terapi.

4. Perubahan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan

Tujuan

Menunjukkan berat badan meningkat mencapai tujuan dengan nilai laboratoriurn normal dan bebas tanda malnutrisi. Melakukan perubahan pola hidup untuk meningkatkan dan mempertahankan berat badan yang tepat.

Intervensi

a.    Catat status nutrisi paasien: turgor kulit, timbang berat badan, integritas mukosa mulut, kemampuan menelan, adanya bising usus, riwayat mual/rnuntah atau diare.

b.   Kaji pola diet pasien yang disukai/tidak disukai..c. Monitor intake dan output secara periodik.

c.    Catat adanya anoreksia, mual, muntah, dan tetapkan jika ada hubungannya dengan medikasi. Awasi frekuensi, volume, konsistensi Buang Air Besar (BAB).

d.   Anjurkan bedrest.

e.    Lakukan perawatan mulut sebelum dan sesudah tindakan pernapasan.

f.     Anjurkan makan sedikit dan sering dengan makanan tinggi protein dan karbohidrat.

g.    Rujuk ke ahli gizi untuk menentukan komposisi diet.

h.   Konsul dengan tim medis untuk jadwal pengobatan 1-2 jam sebelum/setelah makan.

i.     Awasi pemeriksaan laboratorium. (BUN, protein serum, dan albumin).

j.     Berikan antipiretik tepat.

5. Kurang pengetahuan tentang kondisi, pengobatan, pencegahan.

Tujuan

Menyatakan pemahaman proses penyakit/prognosis dan kebutuhan pengobatan. Melakukan perubahan prilaku dan pola hidup unruk memperbaiki kesehatan umurn dan menurunkan resiko pengaktifan ulang luberkulosis paru. Mengidentifikasi gejala yang mernerlukan evaluasi/intervensi. Menerima perawatan kesehatan adekuat.
Intervensi

a.    Kaji kemampuan belajar pasien misalnya: tingkat kecemasan, perhatian, kelelahan, tingkat partisipasi, lingkungan belajar, tingkat pengetahuan, media, orang dipercaya.

b.   Identifikasi tanda-tanda yang dapat dilaporkan pada dokter misalnya: hemoptisis, nyeri dada, demam, kesulitan bernafas, kehilangan pendengaran, vertigo.

c.    Tekankan pentingnya asupan diet Tinggi Kalori Tinggi Protein (TKTP) dan intake cairan yang adekuat.

d.   Berikan Informasi yang spesifik dalam bentuk tulisan misalnya: jadwal minum obat.

e.    Jelaskan penatalaksanaan obat: dosis, frekuensi, tindakan dan perlunya terapi dalam jangka waktu lama. Ulangi penyuluhan tentang interaksi obat Tuberkulosis dengan obat lain.

f.     jelaskan tentang efek samping obat: mulut kering, konstipasi, gangguan penglihatan, sakit kepala, peningkatan tekanan darah.

g.    Anjurkan pasien untuk tidak minurn alkohol jika sedang terapi INH.

h.   Rujuk perneriksaan mata saat mulai dan menjalani terapi etambutol..

i.     Anjurkan untuk berhenti merokok.

C. Evaluasi

1.   Keefektifan bersihan jalan napas.

2.   Fungsi pernapasan adekuat untuk mernenuhi kebutuhan individu.

3.   Perilaku/pola hidup berubah untuk mencegah penyebaran infeksi.

4.   Kebutuhan nutrisi adekuat, berat badan meningkat dan tidak terjadi malnutrisi.

5.   Pemahaman tentang proses penyakit/prognosis dan program pengobatan dan perubahan perilaku untuk memperbaiki kesehatan.

ppT_nya ….

 
Leave a comment

Posted by on April 8, 2011 in Penyakit

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: